Rabu, 25 Januari 2012

Sisi Lain IMLEK

Oleh: Ratmaya Urip*)

Dalam setiap event atau peristiwa selalu saja ada saripati, makna atau esensi hakiki yang tertinggal atau tercipta dan terbangun. Karena setiap event bukan hanya proses, namun sekaligus juga masukan (input) serta tujuan/hasil dan sasaran/output (goal & objective). Dengan kata lain di dalamnya terkandung aspek visioner, manajerial, taktikal  maupun operasional secara generik. Sebagaimana layaknya manajemen modern, itu saja tidak cukup, karena harus ada value untuk dapat menjadi culture, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan manajemen strategi. Value sendiri dapat ada karena sebagai input, sebagai proses maupun sebagai output.

Demikian juga dalam sepotong kalimat: “gong xi fa chai” (mandarin), “kiung hi sin nyien” (khek), atau “sin cia ju ie” (tio chu).

Hari Senin, 23 Januari 2012 ini, bertepatan dengan hari Libur Imlek 2563, atau sering juga disebut sebagai  Sin TjiaHanyu Pinyin, Chun Jie, Chu Xi atau Zheng Yue (Mandarin), Jyutping (Cantonese), Seollal (Koreans), Losar (Tibetans dan Bhutanese), Tsagaan Sar (Mongolians), Tet (Vietnamese), Oshogatsu (Japanese sebelum thn  1873), Chinese Lunar New Year, Eve of the Passing Year, Spring Festival, atau apapun namanya termasuk yang berbahasa Khek maupun Tiociu, meskipun dengan esensi yang sama. Hari yang sarat dengan emosi-emosi kultural maupun spiritual bagi etnik Tionghoa dimanapun berada, meski berbeda sub-etniknya. Juga hari yang paling ditunggu bagi seluruh ras kuning lain dan Indo China pada umumnya (Vietnam, Laos, Kamboja).

Imlek memang lebih mendunia daripada perayaan dengan hakekat yang sama seperti Tet, Seollal, Losar, Tsagaan Sar, dan Oshogatsu. Ini bisa dimaklumi. Di samping populasi Chinese di Mainland yang sangat besar, yang merupakan populasi terbesar di dunia         (lebih dari 1,3 M), juga peran Chinese Diaspora yang menggurita di dunia meskipun dengan bahasa berbeda karena sub-etnik yang beda, Mandarin, Cantonese, Khek, Tiociu, dll. Khususnya di banyak tempat Chinatown di Amerika Serikat (Los Angeles, San Fransisco, dll), Canada (Vancouver), Malaysia (Penang, Johor Bahru, dll) , Singapore, Taiwan, Thailand, Hong Kong, Macau, Indonesia (Jakarta, Surabaya, Solo, Pelembang, Bangka-Belitung, Pontianak, Singkawang, Medan, Bagan Siapiapi, dll), dan Chinatown lain di seluruh dunia. Jumlah populasi yang besar-lah yang menjadi penyumbang utama fenomena tersebut. Bayangkan dengan Hari Raya Tet yang hanya dirayakan di Vietnam atau di tempat pemukiman/pengungsian mereka yang baru di Amerika Serikat, dan Australia, setelah berakhirnya Perang Vietnam (sisa-sisa di Pulau Galang, Kep. Riau masih ada), atau Losar yang hanya di rayakan di Tibet, Bhutan dan sejumlah tempat pengungsian di India Utara, atau Tsagaan Sar di Mongolia.

Imlek yang semula hanya dirayakan oleh para petani untuk mengekspresikan rasa bersyukur atas panen mereka di musim semi itu, sekaligus permohonan doa agar di tahun-tahun selanjutnya akan lebih sukses tersebut kini merambah tataran sosial yang lebih luas, karena tidak hanya petani namun juga kalangan birokrat, industriawan, trader, investor, dan lain-lain, yang tidak ada satupun yang melewatkannya, khususnya di kalangan etnis Tionghoa.

“Back to basic”, karena dunia yang telah memasuki era gelombang ke-empat/fourth wave (era kreatifitas/inovasi, lingkungan dan budaya), setelah mulai beranjak pergi dari era gelombang ketiga/third wave (informasi) ini, tokh akhirnya kembali berpaling pada “basic need” yaitu era gelombang pertama/first wave, yaitu pertanian. Ini tidak bisa dipungkiri, mengingat dengan semakin besarnya jumlah penduduk dunia yang membutuhkan makanan, anomali iklim, chaos di sejumlah penjuru dunia, lingkungan yang tidak bersahabat dengan manusia lagi karena kerakusan manusia itu sendiri, pergulatan kepentingan yang diwarnai praktek-praktek kotor untuk memenangkannya, dan lain-lain.

Gejala kekurangan kebutuhan dasar manusia berupa hasil-hasil pertanian, yang ditandai dengan semakin langka dan mahalnya produk-produk pertanian, harus diwaspadai sebagai gejala awal, untuk kita lebih waspada, agar jangan lagi abaikan fenomena ini.

Fenomena Imlek seharusnya menjadikan manusia untuk kembali ke khittah-nya. Karena Imlek lahir di antara jerami-jerami dan sekam padi atau gandum yang menggunung, serta di banjirnya panen kacang dan kedele di lingkungan pertanian.

“gong xi fa chai” yang konon awalnya bermakna “selamat musim semi baru”, untuk menyambut panen yang melimpah, telah bermetamorfosis menjadi lebih berkonotasi “selamat menjadi kaya raya” akhir-akhir ini. Semangat agraris telah ber-evolusi menjadi lebih kapitalistik, di tengah mulai langkanya atau mulai mahalnya kebutuhan primer bagi kelangsungan kehidupan.

ooOoo

Berbeda dengan Imlek  yang sangat kolosal. Ada satu fenomena lain yang lahir dari lingkungan pertanian, yang mirip dan juga mendunia namun menggurita dengan infiltrasi, yaitu fenomena menjamurnya “pub” di seluruh dunia.

Pub” pada awalnya adalah peristiwa berkumpulnya para petani miskin Irlandia, untuk merayakan  keberhasilan panen mereka. “Pub” yang semula hanya tempat yang tersebar di seantero Irlandia yang hanya dihadiri oleh para petani pria, untuk merayakan keberhasilan panen mereka sambil menbdiskusikan tentang cara-cara memperbaiki sistem dan operasi pertanian mereka itu kini juga merambah dunia, menggurita, namun telah bermetamorfosis. Karena kini sudah menjadi kebutuhan kaum jet-set yang tidak hanya pria saja, untuk menghibur diri, ngobrol yang sering tidak ada hubungannya dengan pertanian. Ada “pub” yang isinya membicarakan gossip, kadang sumpah serapah orang mabuk, meskipun ada pula “pub” yang menjadi tempat diskusi para profesional, tempat libur keluarga, dan aktifitas-aktifitas yang positif lainnya.

Ya,  kedua fenomena tersebut memang mirip jika tinjauannya hanya dari perspektif atau kajian historisnya, khususnya dalam hal keterlibatan para petani. Karena bermata air dari para petani, bahkan para petani paling miskin, yang kemudian menggurita, yang kemudian di-adopsi atau bermetamorfosis mengikuti gelombang peradaban manusia.

Yang membedakan mungkin hanya waktunya saja. Kalau Imlek dirayakan setahun sekali di awal musim semi, sementara “pub” diadakan setiap akhir pekan, khususnya jika ada masalah-masalah pertanian yang menonjol. Beda yang lain adalah Imlek lebih kultural dan spiritual yang sering diwarnai hal-hal yang emosional. Sementara “pub” hanya kultural yang sarat dengan nuansa emosional.

Terlepas dari apa yang ditulis di atas, dari nilai-nilai hakiki dan essensial  yang ada dalam Imlek maupun Pub, sebaiknya kita dapat membawa diri untuk menoleh kembali ke  “basic need” kita, yaitu memberikan apresiasi pada aktifitas yang oleh Alvin Toffler sudah dianggap “jadul” karena merupakan gelombang pertama/first wave dari peradaban manusia. Setinggi apapun peradaban manusia, tanpa hasil pertanian secara luas (termasuk perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan dan lain-lain), manusia tidak akan dapat melanggengkan hidup dan kehidupan.

ooOoo

Untunglah nama “Imlek” yang sarat atau kental dengan nuansa pertanian masih ada di tempat lain, yang lebih berkonotasi pada “basic need”, yaitu produk pertanian.  Karena Imlek adalah nama perusahaan makanan di Belgrade, Serbia, yang berbasis pada produk-produk hasil pertanian, khususnya “dairy products” (butter, cheese dan yoghurt), yang relatif dapat menyaingi produk-produk pertanian Denmark, meskipun tidak sehebat Denmark, yang lebih dikenal sebagai “negeri sarapan pagi”, karena potensinya yang luar biasa di bidang pertanian, sehingga menjadi negeri nomor wahid di Eropa karena dapat memasok kebutuhan sarapan pagi bagi Eropa (lihat saja sarapan pagi di Hotel-hotel di Eropa yang mayoritasnya  merupakan produk-produk pertanian Denmark).

Imlek, yang berdiri pada tahun 1953, yang merupakan nama perusahaan di Serbia tersebut konon memiliki revenue US$ 240 M pada tahun 2009, yang mayoritas sahamnya kini dimiliki oleh Salford Investment Fund mulai tahun 2004. Yang saya heran, kenapa ya setelah saya cari di Fortune 500 Global, kok tidak ada dalam ranking, padahal dengan revenue sebesar itu seharusnya masuk ranking. Seharusnya tidak kalah dengan produsen minyak dunia seperti Exxon-Mobil, Chevron, BP, dll, atau perusahaan-perusahaan otomotif dunia. Apa data-nya yang salah? Atau saya yang salah baca? Hanya Allah Swt yang tahu.

Pesan moral yang ingin disampaikan:


Meskipun kita sudah merasa berada di tataran yang paling tinggi dalam peradaban, namun jangan sekali-sekali meninggalkan apa yang pernah dicapai di awal, karena di suatu waktu akan kembali untuk menyelamatkan kita jika terjadi keterpurukan, atau dapat menjadi cermin bagi peradaban manusia, untuk sesuatu yang lebih baik. Karena “siklus” sering menjadi bagian dari peradaban, atau merupakan peradaban itu sendiri. “Gesang punika kados dene cakra manggilingan, pramila kedah wonten ing margining Pangeran Ingkang Murbeng Dumados”(Hidup itu seperti roda pedati, maka wajib untuk selalu berada di jalan Allah Swt).
 
ooOoo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar