Sabtu, 28 Januari 2012

Neolib

Oleh: Andre Vincent Wenas

“It is essential that student acquire an understanding of and a lively feeling
for values. He must acquire a vivid sense of the beautiful and of the morally
good. Otherwise he – with his specialized knowledge – more closely resembles a
well-trained dog than harmoniously developed person.” – Albert Einstein.

***

    Baru-baru ini isu tentang Neolib menjadi jargon kampanye capres-cawapres.
Cukup ramai wacananya. Ada yang sinis, “…isu kampanye kok abstrak banget ya?”
dan ada yang bingung, “…apa itu neolib? …apa bedanya dengan Neozep (yang ini
obat flu)?” Lalu apa kaitannya isu Neolib ini sama kita-kita nih?

***

    Sebagai suatu istilah, neolib berasal dari kata neo (artinya baru) dan
liberalisme (suatu paham tentang kebebasan). Neolib gampangnya adalah kelanjutan
(continuance) dan redefinisi dari liberalisme-klasik abad ke-18 dan 19 (tokohnya
Adam Smith dan David Ricardo), doktrin pasar bebas inilah yang menjadi
rujukannya.

    Neolib sering dianggap identik dengan negera industri maju, utamanya
Amerika Serikat, lantaran neolib disamaratakan dengan “konsensus Washington”
(triumvirat perekonomian dunia: AS, IMF dan World Bank – lokus ketiganya ada di
Washington – yang mendukung kuat reformasi ala neoliberalisme). Mereka advokat
pasar bebas yang giat berusaha mengeliminasi campurtangan pemerintah (utama
pemerintah negara berkembang, sic!) terhadap mekanisme pasar. Asumsi yang dijual
adalah: pasar akan mencapai titik efisiensi terbaiknya secara alamiah tanpa
intervensi pemerintah.

***

    Dalam upaya kritis membongkar mitos Neolib, Dr. Ha-Joon Chang dan Dr. Ilene
Grabel (bukunya: Reclaiming Development, An Alternative Economic Policy Manual,
yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Membongkar Mitos Neolib,
Upaya Merebut Kembali Makna Pembangunan, InsistPress, 2008), menunjukkan enam
mitos neolib.

    Keenam mitos itu adalah: 1) Negara kaya mencapai kemakmuran berkat komitmen
yang kuat terhadap pasar bebas. 2) Neoliberalisme berjalan dengan baik. 3)
Globalisasi neoliberal tidak dapat dan tidak akan berhenti. 4) Kapitalisme
neoliberal ala Amerika adalah sistem ideal yang mesti diikuti semua negera
berkembang. 5) Model Asia-Timur itu unik; dan model Anglo-Amerika itu universal.
6) Negara berkembang membutuhkan aturan yang ditetapkan oleh institusi
internasional dan institusi lokal pembuat kebijakan yang independen secara
politik. Terhadap keenam mitos-mitos ini telah diajukan kritik yang tajam dan
mendalam. Alternatif-alternatifnya pun telah banyak diulas (catatan: banyak dari
pelbagai tulisan kritis Kwik Kian Gie adalah soal ini). Sedikit saja dari apa
yang secara komprehensif diulas Dr. Ha-Joon Chang & Dr. Ilene Grabel, akan kita
singgung di sini.

    Bahwa setelah berjalan selama dua dekade neolib menunjukkan banyak hasil
(kemajuan ekonomi) memang tidak bisa disangkal. Namun yang juga tak terbantah
adalah fakta bahwa sembari meliberalisasi perdagangan internasional dan arus
finansial, negara industri (sekarang sudah jadi negara maju) telah mengikuti
kebijakan “pajak dan belanja” ala Keynes dan melindungi perekonomian (dalam
negerinya masing-masing) dengan sangat ketat.

    Hal positif lain yang diyakini akan dibawa oleh gerakan neolib adalah bahwa
neolib akan memajukan demokrasi, pemerintahan yang baik, kebijakan ekonomi yang
kuat di negara berkembang dengan cara: pertama, kebebasan ekonomi yang berkaitan
dengan ekonomi pasar meruntuhkan kekuasaan otokrasi dan kleptokrasi. Kedua,
investor internasional umumnya menghindari negera korup atau pemerintahan
otokrasi. Ketiga, neoliberalisme menggabungkan pemerintah dan swasta dalam
komunitas global, sehingga mendorong integrasi norma manajemen dengan praktek
bisnis.

    Lalu apa pembelaan diri neolib terhadap rentetan krisis keuangan dan telah
mengguncang (utamanya negera-negara berkembang) akhir-akhir ini? Jawab mereka:
krisis-krisis ini bukan bukti kegagalan neolib melainkan bahwa pemerintah masih
ikut campur dalam bidang perekonomian, seperti melalui pengawasan pemerintah
terhadap kredit bagi “pelanggan” mereka, dan peraturan yang melindungi para
investor dari resiko.

    Terhadap jawaban ini, kita pun bisa saja mengajukan pertanyaan balik:
bagaimana dengan perilaku pemerintah AS sendiri yang dulu mengintervensi
Chrysler (di jaman Lee Iaccocca) dan sekarang juga mengintervensi GM, dan hampir
semua pelaku industri otomotif raksasa AS yang terancam kebangkrutan? Apakah ini
bukan standar ganda?

    Memang diskusi dan perdebatan tentang teori-teori pembangunan ini sangat
menarik dan sangat menstimulasi syaraf cerebral-cortex kita. Bisa jadi sangat
panjang dan melelahkan,. Yang menarik, wacana teori-teori ekonomi pembangunan
yang seru ini kemudian dibukukan oleh para penerbit besar dari negera maju dan
kemudian dijual di negara berkembang (tentu dengan marjin keuntungan yang
“pantas”)!

***

    Pada ujungnya, sesungguhnyalah kita mesti berani berpikir dan mengambil
keputusan secara mandiri. Yang terbaik (summum bonum) untuk tujuan atau
kepentingan bersama (bonum commune). Kita jangan berpikir soal pembangunan ini
secara instrumental, dan malah bertindak atau memosisikan diri sebagai instrumen
belaka. Pembangunan juga bukan semata-mata soal ekonomi. Soal mendasar ini
memang mesti dimulai dengan pendidikan humaniora berspektrum luas dan horizon
yang lebar sejak dini (walau tidak ada kata terlambat buat yang tua). Karena
jika tidak : “Otherwise he – with his specialized knowledge – more closely
resembles a well-trained dog than harmoniously developed person.” Begitu ujar
Abert Einstein. Wallahuallambishawab.

----------------------------------------------------------
(Catatan:  Artikel ini telah dikontribusikan ke Majalah MARKETING edisi Juni 2009 oleh Kontributor yang sama. Segala hal yang menyangkut sengketa atas Hak atas kekayaan Intelektual, menjadi tanggung jawab Kontributor)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar